Letkol Picaulima Jadi Komandan Skuadron 8

Jabatan Komandan Skadron Udara 8 Wing 4 Pangkalan TNI AU Atang Sendjaja diserah terimakan dari Letkol Pnb M. Tufiq Arasj S.Sos kepada penggantinya Letkol Pnb A.F Vicaulima.S.Sos.

Serah terima jabatan ditandai dengan suatu upacara militer di Hangar Galaxi Skadron Udara 8, Jumat. (18/10). Bertindak selaku Inspektur upacara Komandan Lanud Atang Sendjaja Marsekal Pertama TNI Eko Supriyanto.

Apicaulima

Hadir dalam acara tersebut Komandan Wing 4 Lanud Atang Sendjaja Kolonel Pnb Fachrizet S.Sos. Kepala Dinas Operasi Kolonel Pnb Tarjoni, Kepala Dinas Personel Kolonel Pnb Suliyono,Danyon Bekang I/Kosrad, Dandim 0606 Kota Bogor, Dandim Kabupaten Bogor, Danyon 23 Kopassus Letkol If. Wulan, para Kadis jajaran Wing Dikum dan para Komandan Satuan jajran Lanud Ats serta ketua PIA Ardhya Garini Cabang III Lanud Ats.

Letkol Pnb M. Tufiq Arasj S.Sos merupakan penerbang Helikopter Skadron Udara 8, ia memimpin Skadron Udara 8 selama sebelas bulan terhitung dari tanggal 5 Nopember 2012 sampai 18 Nopember 2013, merupakan perwira lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) 1995 selanjutnya akan menempati jabatan di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur.

Sedagkan Letkol Pnb. A.F Vicaulima.S.Sos. merupakan Alumni AAU Tahun 1996 sebelumnya menjabat sebagai Kabinlat Wing 4 Lanud Atang Sendjaja.

Komandan Lanud dalam sambutannya berharap kepada Komandan baru Letkol Pnb A.F Picaulima agar terus membina potensi yang ada, gali terus motivasi anggota sehingga menghasilkan prestasi satuan.

Tingkatkan keserasihan kerja sama dengan para pejabat lainnya. Tumbuh dan kembangkan sifat kepedulian anggota terhadap apa saja yang berada dilingkungan khususnya terhadap alut sista yang dimiliki. hindari hal-hal yang dapat menimbulkan suasana yang negatif dilingkungan Skadron Udara 8.

Menurut Danlanud yang tidak kalah pentingnya adalah saudara harus dapat mengembangkan soliditas dan solidaritas yang harmonis diantara sesama anggota guna mendukung terwujudnya kerjasama antar kelompok maupun antar individu sehingga mencapai Zero Accident dalam melaksanakan seluruh kegiatan “Harap Danlanud”.

Kepada Letko Pnb M. Taufiq Arasj saya ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas dedikasi dan motivasinya dalam melaksanaan tugas dan tanggung jawab selama ini, sehingga Skadron Udara 8 dibawah kepeimpinan saudara dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan baik. Selamat bertugas ditempat yang baru semoga sukses.

AKBP Erwin Kurniawan Jadi Kapolres Cimahi

Cimahi Webpol (15/06)
Setelah melaksanakan sertijab Kapolres Cimahi di Polda Jabar, jumat (14/06) AKBP. Anwar S.Ik., M.Si melepas tugas dan tanggung jawabnya sebagai orang nomor satu di Polres Cimahi. Demikian pula dengan Wakapolres Cimahi Kompol Arif Fajarudin S.Ik., MH., MAP., yang kini menempuh karir pendidikan sebagai Mahasiswa Sespimpol.

Dalam sambutannya AKBP. Anwar menyatakan tugasnya memimpin cimahi selama kurang lebih selama satu setengah tahun, tentunya sangat berkesan. “Memang ada yang belum sempurna saya memimpin Polres Cimahi, untuk itu saya beserta keluarga mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tugas memang sudah selesai namun silahturahmi tetap kita jaga.” Ujar Perwira yang kini bertugas di Mabes Polri.

a102510750
Kapolres Cimahi kini dijabat oleh AKBP ERwin Kurniawan, alumni SMA Taruna Nusantara angkatan 1.

AKBP Dedy Kusuma Bakti, Jabat Kapolres Cianjur

CIANJUR, [KC].- Terimakasih dan penghargaan yang setulus-tulusnya kepada AKBP. H. Agustri Heriyanto, S.IK atas pengabdian dan dharma bhaktinya selama ini, yang ditandai dengan terjalinnya kerjasama yang baik antara Polres Cianjur dengan Pemerintah Kabupaten Cianjur, sehingga tercipta suasana yang kondusif, aman dan terkendali serta berbagai prestasi yang menggembirakan telah kita capai bersama.

Demikian ditegaskan Bupati Cianjur H. Tjetjep Muchtar Soleh saat mengikuti kegiatan acara kenal pamit Kapolres Cianjur di Palace Hotel Cipanas Cianjur dari AKBP. H. Agustri Heriyanto, S.IK. kepada AKBP. Dedy Kusuma Bakti, S.IK, MTCP. Sabtu (15/06/13) malam.

“Semoga apa yang telah diperbuat oleh Kapolres sebelumnya menjadikan amal ibadah yang diridhoi Allah SWT serta semoga ditempat yang baru dapat memberikan nuansa baru terutama dalam menjalankan tugas,” tegasnya.

Bupati juga menyampaikan ucapan selamat datang di Kabupaten Cianjur kepada AKBP. Dedy Kusuma Bakti, S.IK, MTCP selaku Kapolres baru. Semoga kehadirannya dapat lebih memaknai kinerja Polres Cianjur serta dapat semakin meningkatkan kerjasama antara Polres Cianjur dengan Pemerintah Kabupaten Cianjur. AKBP Dedy adalah alumnus SMA Taruna Nusantara angkatan 1.

“Dengan kerja keras dan koordinasi yang baik dengan dinas / instansi terkait, tugas – tugas yang akan dilaksanakan oleh jajaran Polres Cianjur dapat berjalan sebagaimana mestinya sehingga keamanan, ketentraman dan ketertiban di masyarakat Cianjur dapat tetap terjaga sebagaimana yang diharapkan,” katanya [KC-02]***.

AKBP Budi Herdi, Kapolres Kediri

Alumni TN-1 yang berkiprah di Polri mulai menunjukkan eksistensinya. 10 alumni kini mulai menduduki jabatan strategis sebagai Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) di sejumlah kota di berbagai propinsi. Mulai dari Papua, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.

Salah satu yang menjadi kapolres adalah AKBP Budi Herdi. Putra Pemalang ini bertugas di Polres Kota Kediri.

Ini beritanya:
SURYA Online, KEDIRI – Jabatan Kapolres Kediri Kota diserahterimakan dari pejabat lama AKBP Ratno Kuncoro,SIK kepada AKBP Budhi Herdi Susianto,SH,SIK.MSi di halaman Mapolres Kediri Kota Jl Brawijaya, Kota Kediri, Senin (16/6/2013).

Prosesi serah terima dilakukan dengan adat Jawa. Sebuah kereta kencana disiapkan untuk mengarak pejabat lama.

Mantan kapolres AKBP Ratno Kuncoro dalam sambutannya mohon maaf selama bertugas jika ada yang kurang berkenan selama menjabat.
“Kalau saya melukai secara lisan dan fisik, saya mohon maaf,” ujarnya.

Ditambahkan, kebersamaan selama di Kota Kediri dengan mengajak masyarakat tidak menjadi korban kejahatan dan pelaku kejahatan. Selain itu juga mampu memenuhi target
pengungkapan kasus dari Mabes Polri.

Sementara AKBP Budhi Herdi Susianto,SH,SIK.MSi dalam sambutannya mendoakan semoga AKBP Ratno Kuncoro segera mendapat kenaikan pangkat menjadi kombes pol.

Iwan Satiawan, Best Tax Auditor Ditjen Pajak 2011

Satu lagi rekan kita, alumni TN-1 yang menorehkan prestasi membanggakan. Iwan Satiawan, putra tanah Ambon Maluku, berhasil menjadi pegawai pajak terbaik tahun 2011 lalu. Iwan meraih gelar sebagai best auditor…. wow, sebuah prestasi bergengsi.

a222172_1021109047049_5729_n

Namun Iwan merendah dengan prestasinya tersebut. Sebuah sikap yang layak diacungi jempol. Meski sudah berprestasi tinggi, bang Iwan tetap menyebut prestasinya sebagai hasil dukungan dari seluruh rekan-rekannya. Bukan hasil individunya sendiri. Luar biasa.

a1379389982513

Saat ini, bang Iwan masih bekerja sebagai auditor ditjen pajak yang berkedudukan di Sidoarjo Jawa Timur. Selamat bang Iwan, semoga prestasinya menular kemana-mana… Kami bangga menjadi teman mu.

Faisal Fathani Dosen Teladan 2013

Faisal Fathani: Penemu Alat Deteksi Dini Longsor
TEUKU FAISAL FATHANI
Lahir: Banda Aceh, 26 Mei 1975
Pekerjaan:
Dosen Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik UGM
Istri: dr Mora Claramita, MPHE, PhD (38)
Anak:
- Cut Karina Fathani (9)
- Cut Farrah Fathani (5)
- Teuku Alamsyah Prawira Fathani (2)
Pendidikan: PhD dari Tokyo University of Agriculture and Technology, Jepang

Hujan lebat berhari-hari mengguyur kawasan rawan longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah, sekitar November 2007. Lalu terdengar sirene meraung-raung yang menandakan bahaya segera datang. Dengan komando beberapa warga desa yang terlatih, puluhan orang segera meninggalkan rumah, mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sekitar empat jam kemudian, longsor besar melanda, melumat banyak rumah yang baru ditinggalkan penghuninya. Warga pun bersyukur. Berkat alat pendeteksi dini longsor yang dipasang di kawasan itu, mereka selamat.

OLEH M FAJAR MARTA

Teuku Faisal Fathani (38) tak kalah bersyukur. Alat pemantau dan pendeteksi dini bencana longsor yang ia ciptakan bermanfaat bagi masyarakat. Sejak itu ia makin bersemangat mengembangkan alat pendeteksi longsor dan bencana lainnya.
Hingga kini, berbagai alat deteksi dini longsor telah ia ciptakan, dari generasi pertama yang sederhana dan dipantau manual, generasi kedua dengan pencatatan data digital, hingga generasi ketiga berupa real-time monitoring berbasis sistem telemetri. Alat-alat itu dia namakan Gadjah Mada-EarlyWarning System (GAMA-EWS).
“Saya berusaha menumbuhkan kepekaan dan empati, yang memotivasi diri untuk bekerja total guna mengurangi risiko bencana,” kata Lektor Kepala Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.
Tak sekadar berfungsi melindungi masyarakat dari bencana longsor, GAMA-EWS juga dirancang untuk memberdayakan warga setempat dalam memitigasi bencana alam. Oleh karena itulah GAMA-EWS bisa digolongkan sebagai sistem pemantauan dan peringatan dini bencana longsor berbasis masyarakat. Artinya, pengoperasian dan pemeliharaan alat dilakukan warga setempat.
Selain itu, dilakukan juga investigasi bersama warga, seperti pembentukan organisasi siaga bencana tingkat desa, pembuatan peta risiko longsor, penyusunan standar operasional evakuasi, dan pelatihan evakuasi.
“Konsep pemberdayaan masyarakat perlu dikedepankan. Prinsipnya, warga harus menyadari ancaman bencana di lingkungannya. Ini penting agar mereka mampu membangun kesiapsiagaan dan terwujud ketahanan masyarakat,” kata ahli geoteknik ini.

Tsunami Aceh

Pergulatan Faisal dalam mitigasi bencana longsor berawal saat ia melakukan survei bencana longsor yang terjadi di daerah perbukitan Menoreh, Kulon Progo, DI Yogyakarta, dan Banjarnegara, sekitar tahun 2000. Meski kejadian longsor telah menelan korban jiwa, faktanya banyak warga yang tetap tinggal di daerah rawan logsor tersebut.
“Ini mengusik hati saya, ternyata belum ada upaya mitigasi bencana longsor yang memadai untuk melindungi warga,” kata mahasiswa teladan bidang akademik peringkat I se-UGM tahun 1997 ini.
Faisal lalu menempuh program S-2 di UGM dan S-3 di Tokyo University of Agriculture and Technology, Jepang. Ia mengambil topik riset tentang tanah longsor, terutama yang berkaitan dengan model matematika prediksi bencana longsor. Tekadnya berkiprah dalam mitigasi bencana semakin besar tatkala gempa dan tsunami dahsyat melanda tanah kelahirannya, Aceh.
“Ketika terjadi gempa dan tsunami di Aceh akhir tahun 2004, saya sedang studi S-3 di Jepang. Ini dilema yang berat bagi saya karena keluarga dan sanak saudara menjadi korban bencana tepat ketika saya sedang belajar tentang bencana. Kejadian ini mengubah pandangan hidup saya, memacu semangat dan motivasi untuk berkarya di bidang mitigasi bencana,” kata lulusan angkatan pertama SMA Taruna Nusantara, Magelang, tahun 1993 ini.
Selain motivasi diri sendiri, Faisal juga mendapat dukungan koleganya untuk mengembangkan mitigasi bencana. Profesor Dwikorita Karnawati dari Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM yang mendorong dia dengan menyampaikan kekhawatiran tentang ketergantungan Indonesia pada alat-alat pemantau longsor dari luar negeri. Harga alatnya pun mahal. Lebih repot lagi jika alat tersebut rusak karena harus dikirim ke pabrik pembuatnya di luar negeri.
Koleganya di UGM berharap Fasial dapat mengembangkan alat pemantau dan peringatan dini bencana longsor yang inovatif, berbiaya murah, akurat, mudah dioperasikan dan dirawat, memanfaatkan sumber daya lokal, serta memiliki fungsi yang selevel dengan alat produk asing.
“Sepulang dari Jepang, sekitar tahun 2005 saya mulai merancang alat itu,” kata Ketua World Centre of Excellence (WCoE) on Landslide Risk Reduction ini.
Dari inovasi yang telah dia hasilkan, Faisal (sebagai inventor pertama) dan Dwikorita telah mendaftarkan lima paten alat deteksi dini longsor, yakni alat pemantau gerakan longsor manual dan otomatis, upperground dan underground extensometer, serta tiltmeter.
Extensometer, misalnya, berfungsi mendeteksi jarak keretakan atau kerenggangan tanah untuk menentukan potensi terjadinya longsor. Jika retakan tanah melebar 2-5 cm, alat akan mengirimkan sinyal sehingga sirene berbunyi hingga radius 500 meter. Ini sebagai peringatan dini agar warga segera melakukan evakuasi.
Extensometer juga mengukur akselerasi keretakan tanah. Jika akselerasinya mencapai level tertentu, sirene akan berbunyi. Potensi longsor juga dideteksi alat tiltmeter yang berfungsi mengukur kemiringan tanah.
Data pemantauan dikirimkan secara nirkabel ke server lapangan. Dengan mengaplikasikan sistem telemetri, data dapat dipantau secara online (real time).
Terbukti andal, sejak tahun 2007 lebih dari 100 unit alat deteksi dini longsor buatan Faisal telah dipasang di berbagai daerah rawan longsor. Pada 2012 sistem ini diaplikasikan di kawasan tambang United Mercury Group (UMG) Myanmar. Tahun ini aat itu juga akan diaplikasikan di delapan lokasi Pertamina Geothermal serta bendungan di Pulau Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.
Atas temuan itu, Faisal mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Karyanya telah ditetapkan sebagai salah satu penelitian strategis oleh International Programme on Landslides (IPL-UNESCO) sehingga dia menerima IPL Award of Success dari lembaga tersebut.
Dinilai telah banyak berkontribusi dalam kegiatan mitigasi bencana di kawasan Asia, Faisal juga mendapat Excellent Research Award dan Award of Appreciation dari International Symposium on Mitigation of Geo-Disasters di Kyoto-Matsue pada Oktober 2012.
Pada 8 Juli 2013, atas karya dan dedikasinya tersebut, Faisal juga ditetapkan sebagai Juara I Dosen Berprestasi Tingkat Nasional 2013 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 16 JULI 2013

Siapa yang tidak bangga memiliki kawan seperti Dr. Faisal Fathani? Silakan baca ulasan di Posmetro berikut ini:

BERKAT alat pengintai longsor Gama EWS ciptaannya, Teuku Faisal Fathani PhD dinobatkan sebagai dosen berprestasi tingkat nasional 2013. Karya dosen Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik UGM itu terbukti telah menyelamatkan banyak warga dalam berbagai kasus bencana alam.
=====================
BAHANA, Jogja
————————————
Teuku Faisal Fathani tidak bisa menyembunyikan perasaan bangganya dikukuhkan sebagai dosen berprestasi oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud. Maklum, untuk meraih prestasi itu, dia harus bersaing dengan ribuan dosen dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Pemilihan pendidik dan tenaga kependidikan perguruan tinggi berprestasi tingkat nasional itu dilaksanakan di Hotel Menara Peninsula, Jakarta, 5″8 Juli lalu.

Teuku_Faisal
Sebagai pengajar, Faisal dinilai telah menyumbangkan ilmunya secara nyata kepada masyarakat luas. Bahkan, karyanya tidak hanya berguna di dalam negeri. Beberapa negara telah memanfaatkan alat pengintai longsor Gama EWS tersebut untuk mengantisipasi bencana secara dini.
Gama EWS mampu menyelamatkan masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor setelah memberikan peringatan sebelum terjadinya bencana. Cara kerja alat itu sederhana. Yakni, mendeteksi jarak keretakan tanah untuk menentukan potensi terjadinya longsor. Bila dalam kondisi bahaya, alat akan mengirimkan sinyal, sehingga sirene berbunyi sebagai bentuk peringatan dini. Ketika sirene berbunyi, masyarakat harus waspada dan melakukan evakuasi. Suara sirene terdengar hingga radius 500 meter.

“Karena itu, untuk pengoperasian alat dan perawatannya, kami selalu melibatkan masyarakat,” jelas Faisal kepada Jawa Pos Radar Jogja di Laboratorium Mekanika Tanah, Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (10/7).

Faisal mendapat lima hak paten dari inovasi pengembangan alat tersebut sejak dibuat pada 2003. Bahkan, sejak 2007, lebih dari 100 unit alat pendeteksi dini longsor itu dipasang di 12 provinsi di Indonesia, bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT), International Consortium on Landslides (ICL-UNESCO), pemerintah daerah, LSM, serta perusahaan pertambangan dan perminyakan.”

Di ruangan yang penuh sesak dengan karya-karya penelitian, Faisal menunjukkan alat karyanya, mulai generasi pertama hingga ketiga. Alat generasi pertama dibuat secara sederhana karena hasil deteksi pergeseran dan pergerakan tanah masih dicatat secara manual.
Berbeda dengan alat generasi kedua dan ketiga, data yang muncul langsung direkam dalam memori dan dikirim secara online via internet. Kendati begitu, kerja alat generasi pertama, kedua, dan ketiga pada prinsipnya hampir sama.”

Prestasi Gama EWS generasi pertama mendapat pengakuan dari dalam maupun luar negeri karena berhasil “menyelamatkan” warga di wilayah bencana. Kala itu, sekitar November 2007, alat yang awalnya bernama ekstensometer tersebut menyelamatkan 30 warga di Banjarnegara, Jawa Tengah.

Faisal menceritakan, di daerah rawan longsor tersebut, alat karyanya itu dipasang untuk memantau regangan tanah hingga maksimal 5 cm. Ketika hujan lebat turun dan retakan tanah melebar 5 cm, sirene secara otomatis berbunyi nyaring. Mendengar suara sirene tanda bahaya itu, warga cepat-cepat menyelamatkan diri sebelum longsor terjadi. Begitu warga meninggalkan rumah, tanah benar-benar longsor dan menimbun sebagian rumah mereka.

“Masyarakat merasa terselamatkan oleh alat tersebut. Karena itu, begitu alat ditemukan kembali dari timbunan tanah, mereka menyimpannya. Mereka menganggap alat tersebut telah menyelamatkan nyawa mereka,” tuturnya.

Penerapan sistem peringatan dini, terang Faisal, dilakukan selaras dengan pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan bencana. Karena itu, sebelum alat tersebut dipasang di suatu lokasi, diperlukan kajian lintas sektoral yang melibatkan pakar pedesaan, geolog, dan psikolog.

“Yang dibangun konsesus, apakah masyarakat siap bekerja sama untuk penanganan longsor atau tidak. Jika masyarakat siap, alat ini akan dimodifikasi dan disiapkan,” terangnya.

Untuk menerapkan alat tersebut di daerah rawan longsor, diperlukan organisasi siap bencana di setiap desa. Karena itu, diperlukan orang-orang kunci untuk memberikan pemahaman kepada warga lain. Setidaknya, diperlukan lima hingga enam orang kunci.
Menurut Faisal, biasanya diperlukan waktu sebulan untuk mengaplikasikan alat di suatu wilayah. Sebab, tim harus mengobservasi lokasi lebih dulu selama seminggu. Selain itu, diperlukan waktu untuk memodifikasi ekstensometer sesuai dengan area yang rawan longsor.

Misalnya, yang diterapkan di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, tim harus berkomunikasi dengan bahasa Madura untuk meyakinkan warga bahwa alat tersebut sangat vital untuk mengidentifikasi bencana sejak dini. Pendekatan itu sangat penting karena terkait dengan perhatian dalam menjaga dan merawat alat.

Lain halnya dengan masyarakat di Karanganyar, Jawa Tengah, yang telah memahami pentingnya alat tersebut. Karena itu, mereka rela patungan Rp 1.000 per bulan sebagai biaya perawatan alat. Hasil patungan tersebut dibelikan aki kering untuk mengganti aki lama yang mati dalam tiga tahun.

Berkat “kecanggihan” alat itu, berbagai institusi dari negara lain memberikan apresiasi positif. Pada 2009, misalnya, karya unggulan tersebut ditetapkan sebagai salah satu penelitian strategis oleh International Program on Landslides (IPL-UNESCO) sebagai model Best Practice in Education for Sustainable Development with Respect to Disaster Risk Reduction Program.

Lalu, pada pembukaan 2nd World Landslide Forum di Roma, Italia, 3 Oktober 2011, Gama EWS terpilih sebagai peraih IPL Award for Success dari IPL-UNESCO. Begitu pula saat 10th International Symposium on Mitigation of Geo-Disasters di Kyoto-Matsue, Jepang, 8 Oktober 2012, Faisal menerima Excellent Research Award dan Award of Appreciation karena dinilai telah banyak berkontribusi dalam kegiatan mitigasi bencana alam di kawasan Asia.

Pada 2012, Gama EWS, antara lain, diaplikasikan di kawasan tambang di United Mercury Group (UMG), Myanmar, serta daerah rawan longsor di Vietnam.
“Tahun ini Gama EWS akan diaplikasikan di delapan lokasi geotermal Pertamina serta dua bendungan di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi,” jelas pria kelahiran Banda Aceh, 26 Mei 1975, tersebut.
“Dari alat deteksi longsor ini pula saya menginisiasi dan terlibat aktif dalam kegiatan manajemen risiko berbagai bencana yang meliputi tanah longsor, banjir, aliran lahar, letusan gunung api, gempa, dan kekeringan di berbagai daerah,” ungkapnya. (*/c5/ari)

AKBP Hengki Haryadi Serius Basmi Preman

Kasatreskrim Polres Jakarta Barat AKBP Hengki Haryadi serius membasmi preman. Memang yang paling populer adalah penangkapan Hercules sebanyak dua kali. Hercules sempat dipenjara beberapa bulan. Begitu keluar dari penjara, ia kembali ditangkap oleh Polres Jakbar dibawah pimpinan Hengki.

akbp-email-130630c

Selain menangkap Hercules, jajaran Polres Jakbar juga menangkapi ratusan preman lainnya dari berbagai kelompok. Bukan hanya kelompok Hercules. Wilayah Jakarta Barat selama ini memang dikenal sebagai salah satu basis berbagai kelompok preman. Di wilayah ini banyak sekali beroperasi tempat hiburan malam yang biasanya menumbuhsuburkan profesi preman.

Bravo bang Hengki, maju terus pantang mundur!

Di bawah ini cuplikan berita tentang Hengki dari liputan6.com-nya SCTV.

Pria itu bernama Hengki Haryadi. Kepala Satuan Reskrim Polres Jakarta Barat berpangkat AKBP. Hengki turut hadir di tengah-tengah acara yang digelar FPI. Dia bukan menjaga, melainkan berpartisipasi dalam kegiatan FPI. Hengki pun hanya mengenakan baju muslim koko berbaur di tengah kegiatan FPI.

Pria kelahiran Palembang, 16 Oktober 1974 silam itu sempat menjadi perhatian karena prestasinya menumpas aksi premanisme di tempat wilayahnya bekerja. Kasus terakhir dan masih berjalan, yakni penangkapan Ketua Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu atau GRIB, Hercules Rozario Marshal.

Kepada Liputan6.com di Markas Polres Jakarta Barat,polisi yang pernah mengikuti pelatihan sistem kepolisian di Jepang pada 2010 itu menceritakan pengalamannya, terutama saat membekuk Hercules dan anak buahnya. Hengki akui Hercules beserta kelompoknya terkenal kerap meresahkan warga setempat. Hengki pun sudah mendengar laporan dari intel.

“Kita dibantu intel Polres, dan memang diberitahukan banyak terjadi pemerasan di sana itu. Namun, ini masih penyelidikan deduktif, masih kisaran suara-suara,” ujar pria yang baru saja mengganti baju muslimnya usai mengikuti acara di markas FPI ini.

Berbekal informasi awal yang sudah dikumpulkan dari intelnya, Hengki beserta jajarannya menyelediki lebih lanjut dugaan aksi semena-mena Hercules. Kali ini, Hengki langsung terjun menemui masyarakat yang pernah dimintai uang keamanan. “Bahkan, ada masyarakat yang kita datangi sampai menangis, karena mereka sudah tidak tahu mau lapor ke mana lagi,” kata polisi lulusan PTIK tahun 2004 ini.

Keterangan dari masyarakat yang ditemui pun menjadi awal niat polisi untuk bergerak. Tepat pada 8 Maret 2013 lalu, Hengki beserta puluhan polisi berpakaian preman menyelenggarakan apel di Ruko Bellmont, Kembangan, Jakarta Barat. Lengkap dengan rompi anti-peluru dan membawa senapan laras panjang, Hengki memimpin apel di lokasi. Seakan memancing Hercules untuk keluar. Umpan itu dimakan oleh anak buah Hercules. ” Ternyata saat apel itu, kita diganggu mereka. Mungkin karena mereka merasa terganggu,” cerita yang sudah mengenyam Sespim Polri pada 2010 ini.

Anak buah Hercules yang mencoba membubarkan apel polisi itu pun diredam. Melihat anak buahnya diganggu, Hercules pun turun tangan. Kala itu, sekitar pukul 17.50 WIB, pria yang biasa disapa Maung oleh anak buahnya datang mengendarai motor. Terjadilah bentrok antara kubu polisi dan ‘Maung’ Hercules. Apel polisi dipaksa bubar. Hengki naik pitam. “Kamu tidak usah jadi jagoan! Saya tangkap kamu! Kamu ikut kami ke Polres,” bentak Hengki kepada Hercules saat itu.

Dalam persidangan Hercules membantah marah kepada polisi. Apalagi membubarkan apel itu. “Saya cuma bilang, kalau polisi apel jangan menghalangi jalan,” kata Hercules dalam persidangan. Hercules juga membantah melakukan serangkaian pemerasan kepada warga.

Di sisi lain, Hengki menegaskan, dirinya berani untuk menjebloskan Hercules ke penjara karena tidak ingin masyarakat tercekam dengan keberadaan para preman. Selain itu, ia juga menggarisbawahi, negara tidak boleh kalah melawan preman.

Dibeking

Layaknya manusia biasa, meski memiliki tinggi 180 cm dan bertubuh besar, Hengki tetaplah manusia biasa. Ia juga mengenal kata takut. Namun, tindakan heroiknya menindak tegas Hercules, tidak lepas dari beking yang melindunginya. Lantas, siapakah yang menjadi beking Hengki?

“Saya yakin masyarakat berada di belakang saya. Saya yakin bila didukung rakyat saya tidak takut dan tidak akan mundur,” pria lulusan Akpol 1996 ini saat berbincang dengan Liputan6.com.

Pria yang pernah belajar International Law Enforcement Academy tahun 2010 ini mengimbau agar masyarakat bersatu dalam melawan aksi premanisme. Masyarakat jangan lagi takut untuk melapor pada polisi bila ada tindakan meresahkan. “Lapor pada pihak polisi, bisa lewat telepon. Nanti kita yang akan menindaklanjuti, dan pelapor akan kita lindungi, jangan takut,” imbuhnya.

Bekal dukungan masyarakat yang menginginkan tempat tinggalnya bebas dari para preman, diakui Hengki menjadi salah satu kunci keberhasilan polisi dalam menangkap Hercules. Hengki mengatakan tertangkapnya Hercules, diharapkan dapat terjadi efek jera terhadap oknum-oknum yang mau meniru aksi premanisme. “Itu supaya beri efek getar, You jangan coba-coba berani macam-macam di sini, ada polisi di sini,” tegas lulusan Akpol 1996 ini.

Kecewa

Kesuksesan Hengki untuk memasukkan Hercules ke penjara ternyata tidak berbuah manis. Pasalnya, Hercules hanya dituntut 6 bulan penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Kekecewaan pun diamini oleh Hengki.

Terlihat raut wajahnya berubah ketika mendengar hukuman maksimal preman tersebut hanya 6 bulan. Walau demikian, Hengki tetap menyerahkan hasilnya pada hakim, sesuai hukum yang berlaku. “Vonis itu tergantung hakim, mereka punya pertimbangan sesuai fakta hukum,” katanya.

Meski termasuk pemalu, Hengki tidak patah semangat mendengar tuntutan yang ringan itu. Ia mengaku, bila Hercules tidak bertobat maka vonis yang diberikan hakim, tidak peduli seberapa berat atau ringannya tidak akan menjadi yang terakhir. “Ini bukan yang terakhir, kami akan beri efek jera yang bersangkutan. Masih banyak peluru cadangan, kita akan beri efek jera lagi,” ujar Hengki. (Ism)

Frans Satya Raih Primaniyarta Award

Alumni TN-1 Frans Satya Pekasa menorehkan prestasi gemilang lewat perusahaannya PT. Gading Dampar Kencana. Perusahaan ini sukses meraih penghargaan Piala Primaniyarta 2012, sebagai best exporter.

frans_and_president

Frans adalah pengusaha mebel yang produknya diekspor ke berbagai negara di Asia, Afrika dan Eropa. FRans juga ahli IT khusus SEO internet marketing. Namanya sudah malang melintang di jagat IT dan entrepreneurship Indonesia.

Bravo kawan!

Alumni TN-1 Pimpin Pasukan ke Lebanon

12 orang alumni SMA TN dari berbagai angkatan anggota Kontingen Garuda UNIFIL – United Nations Interim Force in Lebanon. Salah satunya adalah alumni TN-1 Mayor inf Lucki Avianto. Lucky bahkan diberikan tanggung jawab sebagai komandan batalyon.

537767_482047611838621_196728635_n

Selamat bertugas kawan!

Daftar lengkap alumni SMA TN di Kontingen Garuda:
1. Mayor Inf Lucky Avianto (TN 1) : Komandan Batalyon Indobatt
2. Mayor Kav Harrie Purnomo (TN 3) : Kasiops FHQSU
3. Mayor Inf Hasan Abdullah (TN 4) : G4-Logops Seceast HQ
4. Mayor Inf Bambang KEP (TN 4) : G5-Training Seceast HQ
5. Mayor Laut Indra Dharma (TN 4) : Naval Operation Center Unifil HQ
6. Mayor Laut Agus Rianto (TN 4) : J6-Communication Unifil HQ
7. Mayor Inf Pio Nainggolan (TN 5) : Wadanyon Indobatt
8. Kapten Mar Harmoko (TN 8) : Danki D Indobatt
9. Kapten Cku Irwansyah (TN 8) : Papekas FHQSU
10. Lettu Inf Dian D Setyadi (TN 10) : Pasiops Indobatt
11. Lettu Czi Nanang Sujarwanto (TN 10) : CIMIC
12. Letda Cpm Ibrahim (TN 14) : Danton SEMPU

TN-1 Juara Futsal 2011

Amazing…

Anak-anak TN-1 (udah nggak anak-anak lagi ya?) sukses merebut supremasi futsal tertinggi IKASTARA CUP 2011, dalam sebuah turnamen yang sangat melelahkan pada hari Sabtu, 4 Juni 2011. Bayangkan, dalam sehari tim TN-1 bermain sebanyak 6 kali, melawan tim yang lebih muda. Bahkan pada partai perempat final, semifinal dan final, TN-1 mengalahkan adik-adik yang usianya selisih di atas 10 tahun. TN-1 memiliki rata-rata usia 35 tahun (rata-rata usia lebih tua dibanding Levante – klub Spanyol yang sempat mengejutkan pada awal Liga Spanyol 2011).

The winning team

Ini dia road to champion TN-1

Penyisihan grup:
Vs TN 5: 4-0
Vs TN 4: 2-2
Vs TN 7: 3-2
Perempat final vs TN 15: 3-0
Semifinal vs TN 11: 4-1
Final vs TN 16: 5-3

Total memasukkan 21, dan kemasukan 8. Rata-rata perpertandingan 3,4 gol. Mantap. Barcelona dan Madrid pun sulit mencapai rata-rata gol tersebut (hehe padahal kami cuma futsal ya…).

Siapa tim futsal TN-1. Ini dia orangnya:

- Ari “Ibra” Doni Setiawan (pencetak gol terbanyak).

- Alfis “Zidane” Suhaili (cetak banyak gol juga)

- Dani “Vidic” Hamdani (cetak banyak gol juga)

- Dodi “Ronaldo” Mawardi (cetak banyak gol juga)

- Nurman “Ferdinand” Numeiri

- Agung “Cech” Suprapto (kiper hebat nih)

- Yusrizal “Persie” Marzuki

- Ade “Cole” Maryanto

- M. Fajar “Ramos”  Martha

- Steven “Iniesta” Sangi

- Hendra “Maniani”  Wirawan (satu-satunya pemain lokal hehe)

- Ronald “De Boer” Rumondor

Siapa lagi ya?, maaf kalau tak tertulis.

Manajer:  Novi Munarianto

Kilasan lensa futsal Ikastara Cup 2011.

Hehe udah tua, capek euy. Tapi tetap semangat!

Ih gila ya, gol-lin melulu tuh...

Pantes menang... doanya laaaamaaaa dan serius!

Suporter dan tim support-nya mantep. Amat menyokong tim...

Sang manajer bangga menerima piala. 2012 harus dipertahankan. Masih kuat nggak ya? Umuuur...

Partai beda generasi. DItandai perbedaan perut dan kepala bagian atas, hehe

 

Komentar sahabat:

Selamat. mantap tenan. TN1 diperkuat tiga fans MU. mungkin ini efek positif dari kegagalan MU kemarin he..he..he.. Piala disimpan dimana? mungkin TN1 perlu sekretariat dan lemari buat nyimpan-nyimpan piala yang pernah diraih. – Wiwit Kastawan.

Ardon kayaknya masih euforia juara ….kayak aku.  Wkwkwk. Di babak penyisihan kita tanding sama TN satu digit semua, di babak knock-out, kita tanding sama TN dua digit semua. – Nurman.

Wooowwww… Congratzz prends.. Pasti adek2 taruni pada terpesona melihat abang2nya TN1 :D - Harly Rosadi

Hebat-hebat-hebat.. Selamat dan salut… (jadi pengen mulai jogging lagi nih… biar nantinya bisa ikutan main futsal.  Kalau sekarang gw main futsal bahaya, bisa dikira bola :-) – Mahendra.

Skor akhir menjadi 5-3 … Final TN1 vs TN16 … Kita udah di Pirikan mereka baru lahir …. Hahahaha. – Indra Dwiatmoko.

Mantap jaya selalu TN1…
Selamat buat Tim Futsal 2011, dan rekan-rekan semua yang hadir onsite (maupun virtual :)) – Dodok Dwi
Kehadiranmu di lapangan sungguh berarti, bro…konsentrasi dan strategi adik2 langsung buyar dihancurkan olehmu… Not a goal maker, but a destroyer…mantaaaaapsss. – Steven Sangi mengomentari HW, yang kebagian main cuma sebentar.
Hari ini, melalui dunia maya kami mendengar,melihat, dan merasakan semangat dari abang2 TN1. Semangat kekeluargaan dan kebersamaan dengan rekan dan adik2nya. Dan, Semangat juang untuk selalu menjadi yang terbaik dimanapun dan dalam kondisi apapun. Bagi saya pribadi, abang2 TN1 telah dan akan selalu menjadi inspirasi bagi saya untuk selalu memberikan yang terbaik. Terima kasih untuk abang2 TN1. Selamat atas keberhasilan abang2 menjadi juara tahun ini. Tahun depan, pasti akan menjadi tahun yang lebih berat untuk abang2. Karena kami akan menjadi lebih baik dari hari ini. :) Salam JUARA!!! – Rudy Wijaya (TN5)